RSS

Monumen Hamid Roesdi

13 Feb

monumen-hamid-rusdiHamid Roesdi dikenang sebagai sosok pahlawan tiga masa, yaitu masa penjajahan Belanda, Jepang, dan Kemerdekaan yang sangat konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat. Beliau lahir pada hari Senin Pon 1911 di desa Sumbermanjing Kulon, Pagak Malang Selatan. Pada masa penjajahan Belanda, sangat aktif di bidang kepanduan dan tergabung dalam ‘Pandu Ansor’ karena belau juga seorang guru agama sekaligus staf Partai NU. Beberapa tahun kemudian bekerja di Malang sebagai seorang sopir di penjara Besar Malang (Lowokwaru). Pada tanggal 8 Maret 1942 Jepang memasuki kota Malang dan mulai memerintahkan membuat barisan Heiho, Seinedan, Keibodan dan Djibakutai sekaligus melakukan tekanan fisik pada rakyat.

Melihat situasi itu, Hamid Roesdi keluar dari pekerjaannya dan mulai membela nasib rakyat dengan menyusuo ke PETA (Pembela Tanah Air) tahun 1943 yang dibentuk atas usul Gatot Mangkupraja dan ditugaskan di Malang dengan pangkat Sudanco (Letnan I). Selain berlatih militer, ia juga sibuk mempersiapkan laskar rakyat untuk menentang Jepang sendiri. Pada malam hari tanggak 3 September 1945 diumumkan daerah karesidenan Surabaya masuk wilayah RI, Hamid Roesdi mulai melucuti tentara Jepang di Malang. Pada tahun 1946 menjabat sebagai perwira Staf Divisi VII Suropati dengan pangkat Mayor dan bertempat tinggal di jalan Semeru (sekarang Bank Permata).

Dianggap berhasil dalam menangani pelucutan senjata Jepang, kemudian Beliau diangkat sebagai komandan Batalyon I Resimen Infanteri 38 Jawa Barat dan menyelesaikan pertempuran disana dengan sukses. Sekembalinya dari Jawa Barat dinaikkan pangkatnya dari Letnan Kolonel menjadi Komandan Pertahanan daerah Malang di Pandaan-Pasuruan.

Pada Clash I 1947 Hamid Roesdi dengan gigih memimpin pasukan mempertahankan Kota Malang dari tentara Belanda. Sebelum Belanda memasuki Pandaan, Hamid Roesdi berkeliling kota menaiki Jeep untuk memerintahkan seluruh rakyat agar ‘membumi hanguskan’ bangunan Belanda.

Ketika Kota Malang tidak dapat dipertahankan lagi, beliau membuat pertahanan di Bululawang dan menyusun strategi merebut Malang kembali. Tengah malam  8 Maret 1949 kondisi perang sangat genting, Hamid Roesdi datang dan berpamitan pada istrinya, Siti Fatimah yang belum sempat dikaruniai anak karena selalu hidup dalam persembunyian. Setelah pamit untuk terakhir kalinya, beliau tidak pernah kembali lagi selama-lamanya

Sumber: wisatamalang.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 13, 2013 in Wisata Sejarah

 

Tag:

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: