RSS

Blessing in Disguise

Blessing in Disguise

Berapa harga waktu menurut sopir bus malam? Barangkali ia akan menjawab: seharga nyawa para penumpang bus ini. Maka Pak Sopir pun memberi harga yang sangat tinggi terhadap detik demi detik yang dilaluinya. Sedetik saja ia terlena, bisa-bisa bus yang dikemudikannya selip atau tubrukan, dan itu berarti nyawa para penumpang tak terselamatkan.

Lalu berapa harga 2 jam menurut muda mudi penonton film di bioskop? Ah, tak terasa waktu terlalu cepat berlalu. Maka iapun dengan kecewa dan berat hati harus berdiri meninggalkan gedung bioskop.

Berapa pula harga waktu bagi jama’ah shalat tarawih, ketika sang imam shalat mmemanjangkan bacaanya 15 menit saja? Jawabannya adalah para jama’ah menguap lebar-lebar lalu hatinya pun mengeluh gusar: lama sekali bacaan imam kita ini

Pembaca yang budiman, ternyata harga waktu itu naik dan turun,persis seperti fluktuasi rupiah terhadap dolar. Harga sedetik sedemikian tinggi saat kita menjalani tugas yang begitu penting dan genting. Sebaliknya harga waktu sehari penuh barangkali tak begitu berarti bagi si kucing yang tidur mendengkur malas sehari penuh.

Ya! Saat kita sedang santai, tidak punya kesibukan yang berarti, atau saat liburan, waktu rasanya tak begitu penting. Dijalani apa adanya saja lah…

Sebaliknya, ketika tugas menumpuk, tanggung jawab menggunung, semuanya harus segera diselesaikan, maka detik demi detik begitu penting bagi kita. Maka kitapun membuat schedule, merencanakan dengan cermat detik demi detik yang akan kita lalui. Semuanya terencana dengan rapi.

Semakin santai dan nggak punya kerjaan seseorang, maka semakin remeh pula ia memandang waktu, semakin sibuk seseorang, semakin tinggi dia memberi harga terhadap waktu dansemakin cernma pula ia menggunakan waktu demi hidupnya.

Inilah blessing in disguise, rahmat teselubung yang Allah berikan kepada orang yang dilanda kesibukan menumpuk. Di tengah himpitan gas yang menggunung, ia menyadari betapa pentingnya nilai waktu.

“Ada dua nikmat Allah yang kebanyakan manusia terlena atas keduanya,” kata Nabi Muhammad saw. “yaitu nikmat alat dan nikmat waktu luang.” (HR. Ibnu Abbas)

Seorang mukmin yang menyadari tugas hidupnya sebagai khalifah, pasti akan memandang penting waktu. Maka iapun akan membiasakan dan menjadwal penggunaan waktunya agar tidak sia-sia. “Al waajibaatu minal auqaat,” kata Imam Hasan al Banna, “ sungguh kewajiban-kewajibanku jauh lebih banyak darispada waktu yang tersedia.”

Iklan
 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: