RSS

Bulan Sore Hari, Puasa di Esok Pagi

Ramadan benar-benar bulan penuh hikmah. Bulan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas kedewasaan kita dalam beragama. Coba saja lihat, baru berada di ”ambang pintunnya”, kita sudah disodori masalah sebagai studi kasus: perbedaan awal Ramadan.

Rupannya, Allah sedang mengajari umat Islam agar menjadi lebih pintar dan dewasa dalam menyikapi berbagai peristiwa disekitarnya. Dan pembelajaran yang paling mengesankan, memang, adalah dengan studi kasus seperti itu.

Bukan hanya studi kasus, tetapi juga harus berulang-ulang! Yang kadang-kadang bisa sangat membosankan bagi murid-murid yang pandai. Atau, setidak-tidaknya yang punya kecerdasan di atas rata-rata. Masak iya sih, setiap tahun harus belajar masalah yang sama: tidak lulus-lulus. Menentukan awal Ramadan, menentapkan 1 Syawal, bahkan menyepakati Hari Raya Haji pun, kita hampir selalu berbeda. Padahal, yang namanya Hari Raya Haji itu semestinya “tidak mungkin” berbeda di seluruh dunia. Mengapa?

Ya, karena penetapannya harus merujuk ke ritual haji di Tanah Suci. Jika di sana jamaah haji sedang wukuf di Padang Arafah, umat Islam diseluruh dunia disunahkan puasa Arafah. Esoknya, di seluruh penjuru planet digelar Shalat Idul Adha. Itu bertepatan dengan jamaah haji yang lempar jumrah dan bertawaf di Baituallah. Tapi, ternyata banyak juga yang melakukan puasa Arafah justru saat jamaah haji meninggalkan Padang Arafah, berada di Mina. Dengan demikian, selayaknya puasa kita tidak disebut puasa Arafah melainkan puasa Mina.

Perbedaan penetapan waktu ibadah semacam itu sebenarnya boleh saja dikatakan “lumrah” jika hanya terjadi satu-dua kali. Bahkan, disebut penuh hikmah jika arahnya menuju pada perbaikan kualitas diri maupun keumatan. Tetapi, jika hal semacam itu terjadi berulang-ulang tanpa solusi yang jelas, ditakutkan akan banyak “peserta didik” yang bosan dengan hal yang sama tersebut. Apabila jika mulai muncul indikasi yang semakin buruk. Misalnya, ada yang mempersepsi sidang isbat tidak lagi berguna dan tak mau menghadirinnya. Itu menjadi boomerang bagi kebersamaan umat. Tidak lagi memunculkan hikmah, tapi mengarah pada masalah yang semakin serius.

Kita harus waspada…..!

Masalahnya tidak lagi berada pada tataran keilmuan dan kematangan spiritualitas, melainkan mulai mendangkal kearah ego pribadi, kelompok, atau bahkan kepentingan politis. Jika itu yang terjadi, sungguh kita semakin jauh dari hikmah yang dijanjikan Allah bertaburan dalam bulan Ramadan ini. Kita pun akan dimintai pertanggung jawaban atas hal tersebut. Khususnya bagi yang hanya ikut-ikutan.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnnya pendengaran,penglihatan, dan hati semuannya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (masing-masing) [QS Al Israa’:36].

Jika secara keumatan tidak ada yang mampu menyelesaikan masalah tersebut, umat Islam harus pandai-pandai mengambil hikmah secara pribadi agar tidak menjadi korban sia-sia. Kita pun berharap mudah-mudahan Allah segera mengirimkan pemimpin yang memiliki kapabilitas dan integritas yang bisa menyatukan umat demi kemaslahatan bersama.

Bagaimana cara agar kita selamat secara pribadi dan tidak menjadi korban kesia-siaan sebuah kelalaian atau ketidak-pedulian? Tentu saja, kita harus memilki pengetahuan tentang kasus ini, sebagaimana yang diajarkan oleh firman Allah tersebut. Yang pertama pahamillah kapan bulan Syakban berakhir. Jika kita merujuk pada pendapat para pakar astronomi dari lembaga-lembaga berkompeten, hasilnya adalah sebgai berikut.

Menurut ahli ilmu ilmu falak PBNU KH Slamet Hambali, sebagaimana dikutip website resmi PC NU Pekalongan, akhir Syakban 1433 H jatuh Kamis (19/7) Demikian pula Muhammadiyah sudah mengumumkan bahwa akhir Syakban jatuh pada Kamis, 19 Juli 2012, sementara itu menurut pakar astronomi Boscha, Dr Ir Moedji Roharta, akhir bulan Syakban terjadi Kamis 19 Juli 2012, pukul 11.25 WIB. Artinya, semua pihak sebenarnya bersepakat pada Kamis, 19 Juli 2012, itu bulan Syakban sudah berakhir, pada siang hari itu.

Masalahnnya, karena habisnya adalah saat siang, ketika matahari terbenam, ketinggian bulan sabit sebagai penanda datangnya Ramadan masih berusia sekitar 6jam, alias dibawah 2 derajat, sehingga tidak mungkin terlihat dengan mata telanjang, Tetapi kalau kita besepakat bahwa puasa ini adalah “puasa Ramadan”, tentu kita harus berpuasa ketika bulan Ramadan itu datang, bukan? Persis seperti yang dijelaskan dalam ayat berikut ini.

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia. Dan berisi penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (kebaikan dan keburukan). Karena itu barang siapa diantara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah berpuasa…”

[QS Al Baqarah: 185]

Yang perlu kita pahami lebih lanjut, waktu sahur untuk berpuasa esok hari itu masih sekitar 10 jam lagi. Kita mengamati datangnya bulan sabit sekitar pukul 6 sore, tapi waktu berpuasa dimulai 4 pagi. Jadi, kalaupun pukul 6 sore bulan belum terlihat, sepuluh jam lagi pasti ia sudah sangat tinngi di atas horizon, berusia sekitar 16jam. Karena itu, sebenarnya malam itu Ramadan sudah datang…!

Maka, betapa sayangnya jika kedatangan bulan penuh rahmat yang sangat mulia ini tidak kita sambut. Dan kita baru berpuasa esoknya pada tanggal 2 Ramadan. Sementara itu, Allah pun segera memerintahkan agar kita segera berpuasa begitu bulan suci ini hadir. Mengapa kita mesti dibingungkan oleh bulan sabit sore hari ya, padahal puasnnya kan baru esok pagi? Wallahu a’lam bishshawab.

Iklan
 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: