RSS

Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

Apa yang Anda bawa saat salat Tarawih? Umumnya, yang dibawa adalah perlengkapan salat: sajadah, serban, dan tasbih. Dompet? Ya, mesti dibawa untuk jaga-jaga, sekaligus untuk mengambil uang untuk dimasukkan ke kotak amal. Anak-anak SD dan SMP biasanya membawa buku dan alat tulis untuk mencatat materi ceramah imam sebagai tugas dari guru agama yang harus dikumpulkan setelah Ramadan. Selain anak-anak, tidak banyak- nyaris tidak ada- jamaah salat Tarawih dan Shubuh di bulan Ramadan yang mencatat isi ceramah imam. Mencatat materi ceramah hanya dilakukan karena tugas dari guru, bukan karena kesadaran. Karena itulah, setelah dewasa dan tidak ada yang mewajibkan untuk mencatat materi ceramah, kegiatan itu dihentikan.

Bulan Ramadan adalah tarbiyatun nafs (pendidikan jiwa) dan madrasatun nafs (sekolah bagi jiwa). Selama Ramadan, jiwa kita mendapat pendidikan tentang cara mengelola hawa nafsu agar tidak terjerumus. Seperti kata Nabi Yusuf, sesungguhnya nafsu itu memerintahkan kepada kejelelekan kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Allah. Puasa dengan segala rangkaian ibadah yang mengikutinnya adalah wahana untuk menyekolahkan jiwa kita. Tujuannya, setelah lulus dari sekolah itu,ada peningkatan derajat yang lebih baik. Aktivitas selama Ramadan juga memberikan peluang untuk “kuliah” mendapat ilmu lebih banyak. Ada kuliah di sela-sela salat Tarawih dan Witir, ada pula kuliah Bakda salat Shubuh. Itu belum termasuk kuliah “ekstension” atau melalui “jalur mandiri”dalam kegiatan buka bersama di berbagai tempat.

Materi yang disampaikan para ustad itu umummya mengenai agama dengan berbagai varian dan cara penyampaian. Sama seperti khotbah Jum’at, ada khatib yang tampil bersemangat- seperti Rasuluallah saat khotbah sampai matanya memerah-tetapi tidak sedikit khatib yang menebar obat tidur, membuat jamaahnya nyenyak mendengkur, ada yang tampil dengan materi yang pas-pasan, tetapi ada juga yang bersemangat menyampaikan materi yang berbobot sesuai dengan kedalaman ilmunnya. Beberapa dai mudah tampil dengan konsep dakwah dan materi yang mumpuni dan sistematis sehingga mudah dicerna oleh jamaahnya. Sayang, materi itu menguap begitu saja seiring dengan berjalannya waktu. Bisa jadi karena kebanyakan materi-sehari dua kali kuliah-sehingga tidak tertampung. Bisa juga karena kurang perhatian sehingga ilmu tersebut tidak berbekas. Kalau ada yang membekas di antara sekian banyak pelajaran Ramadan, hanya sedikit yang tersimpan rapi di memori otak.

Selama Ramadan banyak ustad yang menyampaikan materi ceramah mengambil amsal cerita ulat menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu. Ulat adalah makhluk yang menjijikan, menakutkan, dan dibenci banyak orang. Tetapi, dia tidak mau terus-menerus menjadi makhluk yang sangat dibenci. Dia punya keinginan mengubah dirinya agar tidak selamanya menjadi common enemy. Maka, dia menjalani proses berdiam diri dalam kepompong untuk beberapa waktu. Setelah selesai menjalani proses kempongisasi, berubahlah dia menjadi kupu, makhluk yang indah dan disenagi banyak orang.

Ulat berubah dari makhluk yang kemproh menjadi makhluk yang bersih, yang hanya mau makan madu yang bagus dan halal, hanya mau hinggap di bunga yang menawan. Itulah perumpaan orang yang berpuasa. Jadi, sangat lucu kalau tidak ada perubahan sama sekali antara sebelum puasa dan sesudah puasa. Berarti lebih jelek daripada binatang. Tetapi, itulah manusia, tidak banyak yang berubah menjadi “kupu” setelah sebulan digembleng dalam “kepompong”. Hanya sedikit dari hamba-Ku yang ingat, begitu kata Gusti Allah.

Kisah itu sudah saya dengar sejak saya masih SD dari ayah saya yang waktu itu ceramah di langgar kampung. Hingga sekarang, cerita itu masih membekas. Mungkin karena diulang-ulang tiap tahun. Meskipun demikian, kisah tersebut tetap relevan dengan kondisi sekarang.

Sebenarnnya ada kiat untuk menjadikan ilmu yang kita terima selama kuliah “semester pendek” di bulan Ramadan ini. Salah satunya mencatat materi yang disampaikan para dai. Tidak ada salahnya kita ke masjid membawa alat tulis dan buku kecil untuk mencatat materi ceramah, seperti yang dilakukan mahasiswa saat kuliah, mendengar dan mecatat. Dengan cara ini, tentu ilmu yang dperoleh bias diingat karena bias dibaca lagi di rumah atau pada kesempatan lain. Kalau mau menggunakan teknologi modern juga tidak perlu fatwa karena tentu tidak terlarang ke masjid membawa smartphone yang bisa digunakan untuk mengetik atau membawa tablet semacam Ipad, Galaxy Tab, atau lainnya. Akan lebih mudah dan praktis.

Sungguh sayang rangkaian ilmu dari pada dai yang bersumber dari Allah dan Rasul itu tidak membekas sama sekali. Kemampuan untuk merekam apa yang sudah didengar dan dilihat memang tidak sama pada masing-masing orang, tergantung dari kemampuan memorinnya. Daya ingat setiap orang tidak sama. Ada yang punya ingatan bagus, tetapi ada juga yang baru mendengar semenit yang lalu sudah lupa. Mencatat adalah solusi agar tidak lupa. Seperti yang dilakukan bapak umat manusia, Adam a.s. Yang oleh Allah dimuliakan karena dia memiliki ilmu yang disimpan dalam pikiran di lisan, dan dalam tulisan. Kemuliaan serupa juga akan diperoleh anak keturunan Adam kalu mau mengikuti apa yang dilakukan manusia pertama di dunia.

Para ahli ilmu mencatat pelajarannya yang diberikan oleh guru mereka dengan penuh ketekunan agar ilmu tidak dari ingatan dan bias diingat terus. Tentu saja tidak bisa dipisahkan antara menulis dan membaca. Seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Sebab, dengan membaca, dia akan mendapat banyak masukan dan ilmu.

Anas bin Malik RA (wafat 96 H) adalah sahabat Rasul yang alim dengan kemampuan ilmu yang sangat tinggi karena mendapat langsung dari sumbernya, Rasuluallah SAW. Dia banyak mencatat ucapan dan perbuatan Rasulluallah yang kemudian menjadi hadits yang menjadi rujukan ibadah dan kehidupan bermasyarakat sampai saat ini. Anas-yang namanya diabadikan sebagai sebuah toko buku di belakang Hotel Hilton, dekat Masjidilharam Makkah- suatu saat berpesan kepada anaknnya. ‘’ Wahai anakku, ikatlah ilmu dengan tulisan”. Maksudnnya, agar ilmu tidak mudah hilang, harus dicatat. Tidak ada salahnya kalau mulai nanti malam kita Tarawih sambil membawa buku catatan dan alat tulis atau membawa tablet canggih untuk mencatat materi ceramah. Insya Allah bermanfaat.

Iklan
 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: