RSS

Keabadian

Sabbaha li al-abad wa huwa washfun min awshafi.

Sepenggal kalimat di atas merupakan ilham Allah SWT yang pernah di anugrahkan kepada salah seorang waliyullah yang sangat dikagumi dan ditakzimi ibn’Arabi, Syekh Muhammad bin ‘Abdul Jabbar an-Niffani (wafat di Mesir pada 354 H). Untaian Ilham yang termaktub dalam kitab Al Mawaqif tersebut menandakan bahwa keabadian merupakan salah satu di antara sekian sifat kemuliaan yang disandang Allah SWT. Dan keabadian itu senantiasabertasbih kepada hadirat-Nya:sebuah ungkapan keserasian bahwa sifat-Nya itu tak lain merupakan implementasi dari kemahasempurnaan dan kemahatunggalan zat-Nya sendiri.

“Segala sesuatu akan hancur (sebagian ada yang sudah) selain wajah-Nya,” firman Allah SWT dalam QS Al Qhasash: 88. Apakah makna dari idiom wajah pada sepotong ayat tersebut? Itu tak mlain adalah segala nilai yag telah di celupkan oleh Allah SWT ke dalam samudra keabadian-Nya. Warna-warni hasil celupan Allah SWT tersebut begitu abadi, indah, dan beraneka ragam. Tapi, sesungguhnya secara hakiki keanekaragaman itu adalah tunggal. Kenapa? Karena berasal usul dari muara yang satu. Perhatikan baik-baik perbedaan karakter dan kepribadian para Nabi yang satu dengan yang lain: Mereka menampilkan nama-nama tertentu dari 99 asmaul husna yang melekat pada zat Allah yang Maha Esa.

Dalam diskursus cakrawala tasawuf, keabadian itu dilawankan dengan kefanaan: segala sesuatu yang busuk dan musnah oleh degup dan kegilaan sang waktu disebut debagai himpunan hal-ihwal yang fana alias sementara, sementara apa saja kyang sanggup (persisnya disanggupkan oleh allah SWT) untuk menerobos tebing-tebing dan ruas segala waktu disebut sebagai sesuatu yang abadi. Kefanaan mewakili segala sesuatu yang muspra dan centang-perenang, sementara keabadian merupakan pengejawantahann dari segala sesuatu yang mulia, yang menghablur dari arah hadirat-Nya. Keduanya di tebar Allah SWT di sepanjang lorong dan medan kehidupan umat manusia di dunia ini sebagai batu ujian untuk memastikan siapakah yang lebih tertarik kepada segala sesuatu yang muspra dan lamur penglihatannya terhadapa pernik-pernik keabadian atau sebaliknya.

Setiap manusia yang lahir ke muka bumi ini langsung di kurung dan di kondisikan oleh kesementaraan yang dipancangkan hukum ruang dan waktu: dihadapkan kepada jajaran-jajaran alam benda, kepada kenikmatan-kenikmatan materi,kepada gengsi-gengsi duniawi, kepada jabatan-jabatan yang menipu, kepada bayang-bayang surga dan neraka, kepada kengerian tentang kematian demi kematian. Lalu, Allah SWT “berupaya” melakukan pembebasan terhadap nasib umat manusia dengan menyodorkan hidangan-hidangan keabadian lewat ajaran-ajaran agama samawi yang dikomandani nabi-nabi dan para penerus mereka.

Keabadian dengan demikian tak lain merupakan stambuk keilahian yang diderivasikan dari genangan kepribadian-Nya sendiri. Para rasul diutus secara silih berganti dan kitab-kitab suci diterjunkan ke tengah denyut kehidupan umat manusia oleh Allah SWT dengan tujuan semata-mata menebarkan petunjuk sebagai pencahayaan terhadap mereka agar sanggup memilah-milah serta memungut berbagai tindakan , sikap, juga keputusan yang memiliki nilai-nilai kemuliaan dan keabadian.

Akan tetapi, upaya untuk menggondol mahkota keabadian yang agung tersebut bukanlah tanpa rintangan: Siapa pun mesti berjerih payah melakukan training spiritual untuk bias tidak tergoda dan sanggup menyingkirkan segala hambatan , baik yang menggiurkan maupun yang memiriskan. Yang menggiurkan adalah segala sesuatu yang di syahwati oleh nafsu, sementara yang memiriskan adalah segala sesuatu yang tidak mengenakkan di batin manusia dan aneka bencana yang nyaris tak tertanggungkan rasa pahitnya.

Roh yang merupakn spectrum dari kehadiran Allah SWT pada diri manusia senantiasa mengajak dan mengimbau mereka untuk merendam diri di samudra keabadian ilahi dengan cara melakukan keberpihakan secara habis-habisan terhadap perintah dan ridha-Nya. Sementara itu, nafsu amarah selalu saja menyorong manusia agar pada akhirnya terjerumus pada dasar jurang kefanaan yang amat mengerikan. Tidak tanggung-tanggung, seorang yang andal di lorong-lorong rohani sekaliber Nabi Yusuf pun hamper saja dilumat kebengisan dan keberingasan nafsu amarah, “Dan sungguh Zulaikha telah bergairah terhadap Yusuf dan Yusuf pun telah bergairah terhadap Zulaikha seandainya Yusuf itu tidak melihat bukti “kebenaran” Tuhannya (QS Yusuf: 24).”

Konon ,yang di maksud bukti (kebenaran) Tuhannya sebagaimana yang tercantum pada selarik ayat di atas adalah ketika berada di tengah kegentingan rohaninya dihadapan Zulaikha yang menggoda, Nabi Yusuf melihat rupa dan kehadiran Nabi Ya’qub, ayahnya sendiri, yang dengan tandas melarang, “Jangan lakukan wahai anakku, itu berbahaya!”

Roh dan nafsu senantiasa berjibaku untuk menuntaskan identitas masing-masing di sebuah gelanggang yang bernama hati: sedemikian sengitnya sehinggabagi para salik (penempuh jalan rohani) sering lebih gemerincing dan mengerikan jika dibandingkan dengan peperangan yang berkecamuk di Badar, di Uhud, atau di Padang Kurusetra. Itulah sebabnya, dalam perjalanan pulang dari peperangan Badar, Kanjeng Rasulullah SAW bertutur kepada para sahabat yang menyertainya “Kita sekarang kembali dari perang yang sepele menuju perang yang lebih dahsyat.”

Para sahabat yang terbelalak lantaran tak membayangkan ada peperangan yang lebih gila jika dibandingkan dengan perang Badar, lalu menyodorkan sepotong Tanya kepada beliau, “Apakah yang lebih hebat itu wahai Rasul?” Jawab beliau dengan singkat, “Pweang melawan hawa nafsu.”

Ketika roh sanggup kita kukuhkan sebagai pemenang pertempuran melawan segala hal yang brengsek dan tak bernilai yang disemburkan nafsu, kita akan memiliki kemampuan yang gemilang untuk senantiasa menyematkan benih-benih keabadian pada segala sesuatu yang kita kelola dan kerjakan. Di saat demikian, kita akan mengungkapkan dengan hati bening dan penuh kegembiraan sebuah kalimat yang pernah dilontarkan Nabiyullah Ibrahim, “Aku tidak mencintai segala sesuatu yang terbenam (QS Al-An’am: 76).”

Lalu, apakah segala sesuatu yang terbenam itu? Tak lain adalah hal-ihwal yang fana karena tidak disemayami oleh nilai-nilai keilahian.

Ja’alanallah wa iyyakum minal muhibbin ila hadhratih, aminn.

Iklan
 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: