RSS

Life is Beautiful | Sebuah Jendela untuk Melihat Dunia

Suatu hari seorang pria menemukan sebuah bingkisan besar di depan rumahnya. Tertulis jelas nama si pengirim, tetangga si pria tersebut. Dengan riang si pria membuka bingkisan tersebut. Tak disangka-sangka, isinya adalah setumpuk kotoran sapi!

Seandainya Anda menjadi pria tersebut kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Mungkin ada yang akan menjawab : mendatangi rumah tetangga Anda sambil mencaci maki, mengirim balik bingkisan ‘istimewa’ tersebut plus surat sakit hati, melaporkan ke ketua RT bahwa tetangga Anda sudah melakukan tindakan mengganggu kenyamanan orang lain dan lain sebagainya yang bisa memuaskan kemarahan Anda.

Namun apa yang pria dalam cerita di atas lakukan? Ia ternyata merasa sangat senang dengan kiriman kotoran sapi tersebut. “Tetanggaku sangat perhatian. Ia tahu persis bahwa rumput dan tanamanku tak terlalu subur. Karena itu ia menyediakan pupuk untukku.” Bukannya marah, ia justru merasa sangat berterimakasih pada si tetangga.

Cerita menarik tersebut dikutip dari Life is Beautiful : Sebuah jendela untuk melihat dunia, karya Arvan Pradiansyah. Pesan utama dari buku ini adalah kemampuan kita untuk menikmati hidup sangat tergantung dari jendela kita memandang kehidupan itu sendiri. Jadi, bila Anda kerap merasa selalu sedih dan tak pernah puas dengan hidup Anda, buanglah jendela Anda saat ini. Tukarlah dengan jendela baru.

Jendela yang dimaksud adalah paradigma. Paradigma adalah sebuah kristalisasi dari berbagai macam faktor seperti pendidikan, pengalaman, agama, keyakinan, kepercayaan, pergaulan, media massa dan sebagainya. Jika kita melihat melalui jendela yang buram, maka benda-benda, orang-orang, pohon-pohon semua akan tampak kusam. Katakanlah seorang napi yang kabur dari penjara cenderung bersikap penuh curiga pada semua orang. Polisi yang lewat disangkanya akan menangkap dirinya. Ia cemas karena seorang ibu tak sengaja melihat-lihat ke arahnya. Dikiranya si ibu pernah melihat fotonya di koran sebagai tersangka. Bahkan seorang anak yang tersenyum ke arahnya dikira mengejek akan getir nasibnya. Padahal realitas yang sebenarnya tidaklah demikian. Paradigma si napi yang membuatnya berpikir begitu.

Kapankah kita dapat mengatakan bahwa hidup ini indah? Apakah ketika kita terbebaskan dari masalah? Padahal dalam hidup kita tak pernah dapat luput dari berbagai masalah. Selepas menghadapi satu masalah, masalah yang lain datang menghampiri. Mulai dari jalanan macet, banjir, tingkat kriminalitas yang tinggi, bos yang cerewet, suami atau istri yang pencemburu, anak-anak yang nakal dan masih banyak lagi.

Buku ini memberikan beberapa tips, agar hidup tetap bisa terasa indah bersama masalah. Dan ini kembali pada kata ajaib tadi: paradigma. Ini langkah pertama yang harus kita selesaikan, mengubah paradigma. Kita mengeluh karena kita menganggap masalah sebagai beban dan hambatan. Seandainya kita berpikir bahwa masalah adalah sarana bagi kita untuk berkembang dan mengeksplorasi potensi yang ada dalam diri kita, justru masalah akan menjadi sesuatu yang kita nanti-nantikan. Bukankah seorang pelajar selalu antusias meski harap-harap cemas menanti saat ujian tiba? Kalau akibat sakit atau berhalangan, kita gagal ikut ujian, kita justru akan memohon-mohon agar diberikan kesempatan untuk ujian susulan, supaya bisa lulus dan naik ke tingkat yang lebih tinggi. Masalah dalam hidup bekerja dengan cara yang persis sama.

Kedua, kita harus bisa mengetahui mana masalah yang merupakan persoalan besar dan mana yang bukan. Caranya mudah. Bayangkan setahun dari sekarang, adakah Anda masih akan bersedih bila mengingat masalah tersebut. Kalau jawabannya tidak, berarti kegusaran dan kegundahan Anda yang besar saat ini hanya menghabiskan energi untuk hal yang tak terlalu penting. Klien yang membatalkan janji, teman sekantor yang iri, orang yang menggores mobil Anda memang menyebalkan. Tapi mereka tak sepantasnya menyita perhatian dan kemarahan Anda sedemikian besar.
Mengetahui hal-hal yang paling penting penting dalam kehidupan kita adalah yang terpenting. Karena sebelum kita menemukannya semua hal akan nampak penting, dan semua hal bisa terasa mengganggu.

Masih ada beberapa tips lagi dari buku ini yang dapat dilakukan jika kita menghadapi persoalan hidup. Sekali kita dapat mengubah paradigma kita, maka seluruh dunia yang terbentang di hadapan kita akan berubah. Karena kita melihat dunia berdasarkan apa yang kita yakini dan bukannya berdasarkan dunia itu sesungguhnya. Maka indah atau tidaknya dunia bukan terletak pada dunia itu sendiri, tapi pada apa yang berada dalam diri kita. Jendela yang bersih membuat kita dapat memaknai kehidupan di luar jendela itu dengan keindahan.

Jendela Bersih : Syarat Pokok Menikmati Hidup
Dalam buku ini, Arvan menyebutkan beberapa kualitas hati yang mesti kita penuhi untuk mendapatkan jendela yang bersih sebagai syarat pokok menikmati hidup. Pertama, memberi lebih banyak tanpa memikirkan balasan apa yang akan kita terima. Hal ini tentu saja akan menjadi mudah apabila kita sudah mengubah paradigma tentang dunia. Bahwa dunia bukanlah sepotong kue besar yang harus diperebutkan bahkan kalau perlu dengan sikut-menyikut, karena khawatir tidak akan kebagian. Keajaiban dari memberi adalah kita tidak akan pernah mengalami kekurangan, justru akan bertambah kaya.

Kedua, bersyukur atas apapun yang kita alami, apakah itu terlihat sebagai kejadian yang baik atau buruk. Karena seringkali kita menyangka apa yang kita alami adalah sesuatu yang buruk, padahal di waktu mendatang hal itu justru baik untuk kita dan begitu pula sebaliknya.

Ketiga, pasrah dengan paradigma baru. Umumnya orang mengartikan pasrah sebagai menyerah. Menurut Arvan, pandangan ini mestinya direvisi, karena pasrah semestinya berarti berusaha sekuat tenaga dengan segala daya yang kita miliki untuk mencapai tujuan. Setelah itu barulah menyerahkan hasil akhir pada kehendak Tuhan. Karena kita hanya bisa mengontrol usaha kita, bukan hasilnya. Kepasrahan macam inilah yang disebut Arvan sebagai bentuk spritulitas tertinggi.

Keempat adalah kemampuan memaafkan orang lain. Kalau saja kita memahami bahwa memaafkan orang lain sangatlah penting untuk kesehatan fisik dan mental kita sendiri, kita tak akan rela berlama-lama memendam dendam. Berbagai penelitian medis membuktikan ketidakmampuan kita memaafkan orang lain dapat menimbulkan berbagai penyakit berbahaya.

Kelima, bersabar. Definisi kesabaran di sini adalah kemampuan menyatukan badan dan pikiran kita di satu tempat. Apabila kita hendak berangkat ke suatu tempat untuk menjalani tes kerja padahal kemacetan lalu lintas menggila dan menyergap kendaraan kita hingga tak bisa bergerak kemanapun, kita pasti akan merasa tak sabar. Kenapa? Karena pada saat itu pikiran kita sudah melayang ke tempat tes, padahal fisik kita terperangkap dalam kemacetan. Kesabaran adalah kemampuan untuk menyatukan pikiran dan tubuh kita.

Keenam dan ketujuh adalah kejujuran dan keberanian. Dua hal ini baru bisa ‘nyaring’ bunyinya kalau bisa berkolaborasi dalam diri setiap manusia. Kejujuran adalah hal yang sangat penting dan dibutuhkan semua orang. Namun kejujuran saja tidak cukup. Keberanian diperlukan untuk menyuarakan kejujuran ini. Dan keberanian hanya dapat terwujud apabila kita memiliki kemampuan menaklukkan rasa takut dalam diri. Ketika masa orde baru, banyak orang menyadari bahwa pemerintah berlaku represif dan memasung kebebasan berpikir masyarakat. Hanya segelintir oranglah yang memiliki keberanian menyampaikan kejujuran dengan suara lantang. Orang-orang seperti inilah yang sesungguhnya telah sampai pada inti keindahan hidup itu sendiri. Orang-orang yang memiliki jendela yang bersih.

Buku ini mengajak para pembaca untuk lebih banyak melakukan perjalanan ke dalam diri. Hidup ini bisa terasa indah memang bukan karena apa-apa yang berada di luar diri kita tapi karena apa-apa yang berada di dalam diri kita. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang begitu sulit dicari. Kebahagiaan itu ada di sini, saat ini juga. Kalau kita tak menemukan kebahagiaan, bukanlah dunia dan orang lain yang kita ubah terlebih dulu, melainkan diri kita sendiri.
Sisi menarik dari buku ini adalah gaya bertuturnya yang banyak menggunakan cerita. Manusia; tua muda, laki-laki perempuan memang mudah terpikat pada cerita. Berbagai kisah hikmah yang terserak di dalam buku ini menjadikan pesan moral yang ingin disampaikan penulis menjadi lebih mudah melekat dalam ingatan pembaca. Cerita membuat kita mudah menyerap pesan tanpa merasa digurui atau diceramahi.

Buku ini mengandung nilai-nilai spiritual yang kental di dalamnya, termasuk hal-hal yang terkait dengan relasi manusia dengan Tuhan. Memang, penulis kadang mengambil contoh dari ritual yang dimilikinya sendiri sebagai seorang muslim, seperti menerapkan dzikir Alhamdulliah (Segala puji bagi Allah), Subhanallah (Maha Suci Allah), Allahu Akbar (Allah maha Besar) sebagai tiga kunci hidup yang bahagia. Meskipun dari segi bahasa mungkin tak terlalu akrab bagi pemeluk agama lain, tapi secara substansi hal ini bisa tetap dilaksanakan oleh pemeluk agama dan kepercayaan apapun selama ia mempercayai keberadaan dan kekuasaan Tuhan.

Sebagaimana kelemahan buku yang berisi kumpulan artikel pada umumnya, buku ini bukanlah merupakan suatu bangunan yang masing-masing bagiannya tampak betul-betul harmonis satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan masing-masing tulisan tadinya memang artikel yang berdiri sendiri dan dikodifikasi kemudian karena punya kesamaan tema.
Pada beberapa bagian juga terlihat ada pengulangan pesan. Meskipun demikian hal tersebut tidak mengganggu kenikmatan pembaca secara keseluruhan. Mungkin trend pembaca Indonesia justu lebih senang tulisan-tulisan pendek ketimbang harus membaca yang panjang-panjang. Karena dengan waktu dan energi yang tak begitu besar, pembaca bisa memperoleh asupan kognisi dan bahan perenungan spiritual yang berarti. Buku ini dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Iklan
 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: