RSS

Mengurai Benang Kusut Penetapan Waktu Ibadah

Perbedaan yang sering terjadi dalam menentukan waktu ibadah umat Islam harus mulai diurai. Sebab, ibarat benang kusut, masalah ini semakin tidak ketahuan ujung pangkalnnya saja tidak ketahuan, bagaimana kita bisa mengurai keruwetan?

Penetapan waktu ibadah sebenarnya bukan hanya soal puasa melainkan juga salat. Bahwa salat adalah ibadah yang ditetapkan waktunnya. Namun wkatu salat bisa diselesaikan dengan relative mudah. Terjadi kompromi antara tradisi dan sains secara harmonis. Dulu waktu salat ditetapkan dan dijalankan sesuai dengan tradisi Rasuluallah, yakni dengan melihat posisi matahari secara kasatmata.

Ketika fajar murai merebak di ufuk timur, umat Islam diwajibkan menghadap Allah dengan Salat Shubuh. Ketika matahari sudah melewati ufuk tertinggi diwajibkan Shalat Dhuhur, Saat matahari berada di tengah ufuk dan setengah tenggelam diwajibkan shalat Ashar, saat matahari sudah tenggelam di ufuk Barat, umat menjalankan shalat Magrib, saat gelap malam menjalankan shalat Isya.

Dalam perkembangannya, umat Islam sesudah zaman Nabi merumuskan cara muda datangnya waktu shalat, yakni dengan menegakkan tongkat di bawah sinar matahari. Khusunya di Indonesia. Saya ingat betul bagaimana guru ngaji saya waktu kecil mengajari cara menentukan shalat. Waktu dhuhur saat tongkat mengahsilkan bayangan pendek condong ke timur. Waktu ashar saat bayangan tongkat seukuran panjang tongkat itu sendiri. Waktu maghrib saat matahari sudah tenggelam, waktu isya sudah gelap malam. Dan subuh saat fajar sidik yakni warna benda sudah dibedakan antara hitam dan putih.

Sekarang kita sudah tidak menggunakan cara itu lagi sebagai trades. Kita sudah begitu percaya kepada jam tangan, jam dinding, atau jam handphone. Dan seperti itu juga yang dilakukan muazin sebelum dia mengumandangkan adzan. Tradisi telah bergesar tanpa meninggalkan substansi waktu shalat.

Ketika saya bermukim di Kairo, Mesir selama setahun, saya sempat tertawa sendiri saat mengenag waktu kecil saat mengaji. Sebab, tradisi menegakkan tongkat untuk mengukur datangnya waktu shalat itu “ketemu batunnya”. Saat dhuhur ternyata bayang-bayang tubuh saya tidak berukuran pendek, tetapi sama panjangnya dengan tubuh saya. Dan arah bayangan tidak ada di timur, melainkan agak ke utara.

Menurut pelajaran ngaji saya saat kecil, itu semestinya waktu asar. Tapi, jam tangan saya menunjukkan pukul 12 siang. Dan ketika waktu asar datang jam 3 sore, bayang-bayang tubuh saya bukan lagi seukuran tinggi saya, melainkan 2 kali tinggi badan saya. Saya hanya garuk-garuk kepala karena pelajaran fikih itu hanya bisa dijalankan di Indonesia. Tidak berlaku di Mesir apalagi Eropa Selatan / New Zealand ke selatan.

Sebab, di Eropa Utara keadannya lebih rumit lagi. Suatu ketika saya ke Belgia untuk mengahadiri konferensi aeronautika atas undangan Menristek B.J.Habibie waktu itu. Di puncak musim panas , siang hari lebih panjang daripada malam. Waktu magrib datang sekitar jam 10 malam.

Apalagi di Finlandia, matahari tidak tenggelam sampai 23 jam dan malam hari hanya berdurasi 1 jam. Atau semakin parah di St Peterburg –kota kecil di utara Moscow- bahwa matahari bisa tidak tenggelam 24jam.

Waktu shalat menjadi “kacau” jika harus mengikuti tradisi pergerakan matahari. Apalagi waktu puasa. Bagaimana mungkin kita disuruh puasa 24jam di Moskow dan sekitarnya ketika musim panas datang. Sebab menurut “fikih tropis”, mestinya berpuasa dimulai saat matahari belum terbit dan diakhiri setelah matahari terbenam. “Mataharinnya tidak terbenam Mas…!” kata kawan saya Saipudin Zuhri, yang bekerja di KBRI Moskow. Tradisi wilayah tropis sama sekali tidak berlaku di sini. “Fikih Topis” harus diadaptasi menjadi “fikih subtropics”, atau bahkan “fikih luar angkasa’ ketika diterapkan pada astronot yang sedang bertugas di orbit bumi.

Sebab, jika tidak ajaran Islam akan terjebak kepada tradisi masa lalu yang tidak bisa diterapkan lagi untuk umat manusia di zaman modern. Karena itu tidak mengherankan, sahabat saya mantan rektor UB, Prof Dr Ir Bambang Guritno yang pernah bersekolah di Eropa mengatakan: “Mas agus jangan-jangan orang Eropa itu enggan masuk Islam karena takut disuruh puasa 24jam…! Kan runyam kalau begini pemahamannya.

Iklan
 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: